Ada-ada saja fenomena yang terjadi. Masalah jalan
yang rusak belum teratasi, ada lagi masalah, yakni patahnya jembatan penghubung
yang menghubungkan antara desa Sendang Asih dengan desa Sendang Agung. Patahnya
jembatan utama ini disebabkan arus air sungai yang begitu kencang tidak mampu
tertahan oleh podasi jembatan tersebut. Menurut penuturan salah satu warga Desa
Sendang Agung yang sedang mengamati kondisi Jembatan, Mas Suripto mengatakan “patahnya
jembatan ini terjadi pada hari Senin, 19 Januari 2015. Patahnya Jembatan Sendang Agung-Sendang Asih
terjadi sekitar pukul 18.00 yang kala itu arus air sungai yang cukup deras
terlihat dari tingginya permukaan air sungai hamper mencapai badan jalan“
Faktor penyebab patahnya jembtan penghubung Desa
Sendang Agung dan Sendang Asih adalah karena bergesernya posisi Pondasi atau
kaki jembatan tersebut. Hal tersebut disebabkan arus air yang mengikis tanah
yang menjadi dasar pondasi jembatan, akibatnya menggeser posisi beton. Selan itu
aktivitas penambangan pasir yang berlokasi dekat dengan jembatan juga
ditengarai menjadi penyebab jatuhnya beton jembatan. Karena tanah dan pasir
yang selalu diangkut oleh penambang pasir yang menjadi dudukkan beton pun
berkurang.
Banjir besar yang melanda desa Sendang Asri
Kecamatan Sendang Agung ini bukan kali ini saja terjadi. Dua tahun yang lalu
banjir besar juga terjadi di Sendang Asri, banyak rumah penduduk yang ternedam
banjir selama satu minggu. Kemudian tahun ini, dampak yang diakibatkan banjir
cukup parah, yakni terputusnya jembatan penghubung antara kampung Sendang Asih
dan Sendang Agung. Akibatnya, aktifitas perekonomian pun terhambat karena
putusnya jembatan penyebrangan satu-satunya ini.
Saat ini yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah
melakukan penyebrangan menggunakan perahu rakit dari bambu. Beberapa pedagang
dan masyarakat yang ingin melanjutkan aktivitasnya harus menggunakan jasa
penyebrangan rakit. Untuk satu kendaraan bermotor dikenakan tariff Rp 5.000,-. Para
pedagang kecil banyak yang balik arah dan tidak jadi melanjutkan aktivitas
mereka seperti biasanya karena belum tentu keuntungan yang mereka dapatkan bisa
menutupi biaya Pulang Pergi sebesar Rp 10.000,-. Untuk kendaraan besar yang
akan Desa Sendang Asih harus memutar arah melewati jalan Desa Sendang Baru. Hingga
saat ini hanya jembatan darurat yang bisa digunakan untuk menyebrangi sungai.








0 komentar:
Posting Komentar